Menikmati Wisata dan Budaya Kabupaten Pamekasan - Bagian 2

17.59.00 Moch Ristra Mahardinata 0 Comments


Masih lanjutan postingan sebelumnya dan masih di Pamekasan,

Hari kedua tepatnya tanggal 29 Oktober kami siap untuk melihat meriahnya karapan sapi tapi sayangnya dimulai siang hari. Akhirnya kami putuskan pagi hari kami sekedar main ke Pantai Jumiang yang tidak terlalu jauh dari rumah temen saya. Sebenernya pantai ini tidak terlalu bagus karena memang lebih banyak digunakan sebagai tempat bersandar perahu nelayan. Tapi yang asik di pantai ini juga terdapat bukit jadi bisa foto dari atas bukit. Karena kesiangan jadi gak dapet momen sunrise wkwk. Di pantai kami Cuma foto-foto gak jelas mumpung pantainya sepi gak ada yang liat.
Pantai Jumiang
Siang hari sekitar jam 10 kami berangkat ke stadion yang digunakan event karapan sapi. bisa ditebak seberapa ramenya, semua berkumpul disini menyaksikan acara yang dihelat sekali dalam setahun ini untuk menentukan sapi tercepat se Madura. Meskipun panas terik gak menyurukan niat untuk liat event ini. Panas, rame, desak-desakan, tapi yang penting puas bisa liat keseruan lomba balapan sapi pilihan dari tiap Kabupaten yang ada di Madura ini. Karena acara ini berlangsung cukup lama dan karena memori kamera sudah penuh, alhasil kami pun langsung menyudahi melihat event ini sekitar jam 1 siang. Serius panasnya gak main-main -_-
Karapan Sapi
Setelah liat karapan sapi kami mampir beli es bubur kacang ijo yang cukup terkenal di Pamekasan. tempatnya emang kaki lima di pinggir jalan tapi ramenya minta ampun. Entah emang buburnya yang enak atau faktor cuaca, yang jelas esnya sangat segar dinikmati di siang hari yang terik tadi. Untuk kali ini gak ada fotonya ya sorry lupa gak ngefoto saking hausnya pengen ngabisin esnya wkwkwk.

Puas lepas dahaga langsung dilanjutkan beli rujak khas Pamekasan. menurut saya rujaknya hampir sama dengan rujak cingur di Surabaya. Rujak disini berisikan sayuran dan cingur (mulut) sapi, yang membedakan hanya bumbu petis yang dipake disini berwarna coklat berbeda dengan Surabaya yang berwarna hitam, kayaknya sih beda dari bahan pembuatnya. Untuk rasa memang menurut saya rujaknya lebih enak dibanding yang di Surabaya.
Rujak Madura
Sore hari kami masih sempat istirahat, dapat info kalo malam hari akan ada pawai musik keliling di sekitar alun-alun. Sekitar jam 8 malam kami langsung menuju alun-alun dan benar saja sudah penuh sesak sama masyarakat yang ingin liat pawai musik ini. Lagi-lagi gara-gara telat akhirnya kami terpaksa jalan lumayan jauh untuk liat yang rombongan terdepan. Pawai berisikan mobil yang dihias dan para pemain musik bermain diatasnya. Lagunya sih campur mulai lagu madura sampai lagu dangdut hahaha. pawai musik berakhir tapi kami masih belum berakhir menghabiskan malam di Pamekasan ini. Seperti malam sebelumnya kami ngopi+nyusu di alun-alun tepatnya kali ini di depan Monumen Arek Lancor yang merupakan ikon dari Kab.Pamekasan ini. Monumen ini berbentuk tugu dari senjata tradisional Madura. Dibanding malam sebelumnya suasana alun-alun jauh lebih sepi.
Pawai Musik
Monumen Arek Lancor

Senin paginya sebenarnya masih ada karnaval drumband tapi terpaksa kami balik ke Surabaya dan kembali ke kehidupan nyata yaitu kuliah + nugas + ngerjain TA hahaha. entah kenapa niatan main ke Pamekasan kemarin yang awalnya Cuma pengen liat Karapan Sapi malah bertambah dengan berbagai event yang diadakan PemKab Pamekasan ini. Satu lagi manfaat dari punya teman yang asalnya jauh dari kota perantauannya yaitu kita bisa numpang ketika main ke kotanya *jangan ditiru ya kalo yang ini.

sekedar tips aja kalo main ke Madura, jangan lupa bawa sunblock karena 3 hari disini kulit saya sudah belang dan banyak yang bilang muka saya makin hitam padahal sebelumya udah hitam wkwkwk.

terimakasih sudah membaca sedikit cerita di pulau seberang ini.

You Might Also Like

0 komentar: