Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Watu Semar, Cerita Mistis Batu Raksasa di Alun-Alun Bojonegoro


Akhirnya bisa menyempatkan waktu untuk mengisi blog ini, maklum saja karena kesibukan kerja dan kerja saya di luar kota Surabaya, tepatnya di Kabupaten Bojonegoro.

Kebetulan di akhir pekan saya sempatkan main ke alun-alun Bojonegoro. Disini ada salah satu tempat yang menarik perhatian yaitu Watu Semar. Watu Semar ini merupakan sebuah batu besar dengan ukuran sekitar 4x3 meter yang ada di sisi timur alun-alun Bojonegoro tepatnya di seberang Pendapa Pemkab.
Batu Semar
Setelah ngobrol sama teman saya yang orang asli Bojonegoro, dia bilang kalo Watu Semar ini letak asalnya tidak di alun-alun ini tetapi dipindahkan dari dalam hutan yang ada di kawasan Dusun Bendotan, Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Bojonegoro. Pemindahan batu ini merupakan ide dari Bupati yang menjabat saat itu untuk menjadikan batu ini sebagai prasasti kebanggaan Kabupaten Bojonegoro. Kisaran biaya yang dibutuhkan sekitar 250-300juta.

Dari cerita teman saya, batu ini awalnya merupakan batu yang diselimuti kekuatan mistis. Terbukti pada saat proses pemindahan dari lokasi asal batu ini ke alun-alun banyak kejadian mistis. Saya sebagai pendatang pun cuma bisa percaya dari cerita teman saya tersebut. Kemudian saya cari info mengenai proses pemindahan batu ini dan saya menemukan web ini yang menceritakan secara detail proses pemindahan dari awal hingga sampai alun-alun seperti saat ini.

Berdasarkan info yang saya kutip dari web tersebut Salah satu kejadian mistis adalah terputusnya tali baja pada mesin crane saat sedang mengangkat batu tersebut. Peristiwa itu terjadi ketika tanah sekitar Batu Beluk telah dilubangi sedalam sekira satu meter untuk memudahkan mesin crane mengangkatnya. Tapi justru yang terjadi batu menancap semakin kokoh seperti tak mau diangkat. Beberpa kali operator crane mencoba mengangkat batu tersebut dengan kawat baja yang dikaitkan pada batu. Dalam ritual itu paranormal mengaku melihat ada penunggu (mahkluk halus) di Batu Beluk. Penunggunya bukan hanya satu, melainkan banyak.
Proses Pemindahan Batu
Beberapa syarat pun digunakan dalam ritual. Di antaranya menggelar selamatan dengan melengkapi sesaji seperti jajanan pasar, kembang setaman, dan pembakaran dupa.  Hasilnya, batu tetap tak dapat dipindahkan ke trailer. Sempat terangkat setinggi sekira 20 centi meter (CM), batu kembali jatuh karena kawat baja terputus. Sehingga menimbulkan suara cukup keras diserta dengan gempa di sekitar lokasi. Padahal, secara logika, seharusnya crane itu dapat mengangkat Batu Semar. Karena kekuatan crane melebihi dari berat batu. Melihat kejanggalan itu, akhirnya sejumlah paranormal dan kyai didatangkan untuk membantu melihat hal gaib yang ada di Batu Beluk.

Untuk cerita lengkapnya silahkan buka web yang saya kutip tersebut ya haha

Terlepas dari hal mistis yang dimiliki batu ini, menurut saya Watu Semar ini telah menjadi salah satu ikon di Kabupaten Bojonegoro dan tentunya harus anda kunjungi ketika di Kabupaten Bojonegoro.


Festival Sapi Sonok, Potret Keanggunan Sapi Madura

Ini merupakan cerita detail waktu saya main ke Kabupaten Pamekasan, Madura. Tepatnya hari Sabtu tanggal 29 Oktober lalu setelah saya dan temen-temen baru sampai Pamekasan, langsung menuju ke Stadion R.Soenarto Hadiwidjojo yang merupakan tempat perhelatan festival sapi sonok. Festival sapi sonok ini merupakan salah satu budaya yang ada di Pulau Garam Madura.
Stadion Lokasi Festival
Panggung Acara
Festival adu kecantikan antar sapi betina
Yup festival ini termasuk rangkaian event sebelum acara puncak yaitu lomba karapan sapi dan biasanya diadakan sehari sebelum karapan sapi. Seperti event tahunan pada umumnya yang jelas isi stadion ini penuh dengan masyarakat yang ingin melihat festival sapi sonok tingkat Madura.
Peserta Sapi Sonok
Berdandan dengan Aksesoris
Festival sapi sonok ini sendiri berbeda dengan karapan sapi yang beradu kecepatan untuk sampai garis finish terlebih dahulu, sapi sonok ini yang digunakan adalah sapi betina dan yang dinilai adalah kecantikan sapi serta kekompakan langkah kaki menuju garis finish.
Latihan
Garis Start
Di dalam stadion ada wilayah khusus tempat para sapi ini sebelum tampil. Para sapi didandani dengan banyak aksesoris untuk mempercantik penampilan. Para peserta merupakan sapi-sapi pilihan dari berbagai penjuru Madura yang secara khusus dihias dan dirawat oleh pemiliknya. Dari info yang saya dapat harga sapi sonok ini berkisar puluhan juta. Sebelum mengikuti festival ini para pemilik sudah memesan aksesoris yang akan dipakai sapi. Bahannya ada yang dari perak bahkan emas. Satu set aksesoris yang dipakai sapi ini bisa mencapai 5 juta rupiah.
Pawang di Belakang Sapi
Garis Finish
Pawang yang Ikut Menari
Yang paling anggun dan kompak yang menang
Teknis perlombaan sebenarnya cukup sederhana yaitu dalam satu babak akan ada tiga pasang sapi yang berlomba. Dari garis start sapi diharuskan berjalan dengan anggun dan kompak antara sapi kanan dan sapi kiri. Di belakang sapi terdapat pawang atau pelatih yang mengendalikan sapi dengan tali. Pada saat sapi berjalan akan ada iringan musik sehingga pawang yang hebat bisa menari secara kompak dengan sapi yang ada di depannya. Tentu itu bukan hal mudah, bayangin aja menuntun dua sapi biar jalan kompak dan anggun pula. Sesampainya di garis finish, kaki depan sapi diharuskan menginjak balok kayu dan tidak boleh berpindah sampai musik selesai. Kelihatannya sih mudah tapi banyak juga pawang yang gagal mengendalikan sapinya sampai sapi berjalan terlalu cepat atau tidak berjalan lurus. Setelah musik berhenti, terdapat tim juri yang menilai poin tiap peserta dengan akumulasi berdasarkan kesalahan yang dilakukan sapi peserta. Saya sendiri juga kurang tau kesalahan seperti apa yang mengurangi poin yang jelas juri pasti akan menyebutkan jumlah poin tiap peserta.

Musik Tradisional Pengiring
Dewan Juri
Untuk arena pertandingan sapi sonok ini tidak terlalu jauh atau lebar, cukup menggunakan sebagian lapangan stadion. Yang menarik perhatian disini adalah ketika melihat peserta yang akan tampil melakukan latihan di sisi lain lapangan. Kenapa saya bilang menarik ? karena setiap ada peserta yang latihan akan membawa rombongan yang main musik sehingga suasana semakin ramai. Apalagi ketika terdapat wanita biduan yang ikut dalam rombongan peserta yang latihan ini, pasti akan semakin banyak orang yang datang untuk memberikan saweran. Tenang saja ini sudah merupakan tradisi jadi tidak perlu berpikir yang aneh-aneh hahaha.
Rombongan Latihan
Budaya lokal ini sudah mendapatkan paten agar tak bisa diakui bangsa lain
Festival sapi sonok ini merupakan budaya dan tradisi Madura yang telah memiliki hak paten dari Menkumham jadi harapannya kedepan tidak akan ada bangsa lain yang mengakui budaya ini merupakan milik mereka. Sapi sonok belum mendapatkan pengakuan dari pemerintah pusat, sehingga piala yang diberikan kepada peserta hanya piala lokal, sedangkan karapan sapi, merupakan Piala Bergilir Presiden RI.
Asisten Pawang di Garis Finish
Saya sendiri juga kurang tahu apa hadiah dari festival sapi sonok ini karena gak mengikuti sampai akhir acara. Yang jelas sapi yang menjadi juara harganya akan naik sampai ratusan juta rupiah karena merupakan sapi terbaik yang mengikuti acara ini. Bisa dibilang saya beruntung karena dapat melihat secara langsung festival ini yang hanya diadakan sekali dalam setahun dan merasakan kemeriahan dari budaya asli Madura. kalo di event ini kita bebas mau ambil foto dari angle manapun bahkan bisa selfie sama sapinya.


Sempet Selfie Sama Sapi

Menikmati Wisata dan Budaya Kabupaten Pamekasan - Bagian 2


Masih lanjutan postingan sebelumnya dan masih di Pamekasan,

Hari kedua tepatnya tanggal 29 Oktober kami siap untuk melihat meriahnya karapan sapi tapi sayangnya dimulai siang hari. Akhirnya kami putuskan pagi hari kami sekedar main ke Pantai Jumiang yang tidak terlalu jauh dari rumah temen saya. Sebenernya pantai ini tidak terlalu bagus karena memang lebih banyak digunakan sebagai tempat bersandar perahu nelayan. Tapi yang asik di pantai ini juga terdapat bukit jadi bisa foto dari atas bukit. Karena kesiangan jadi gak dapet momen sunrise wkwk. Di pantai kami Cuma foto-foto gak jelas mumpung pantainya sepi gak ada yang liat.
Pantai Jumiang
Siang hari sekitar jam 10 kami berangkat ke stadion yang digunakan event karapan sapi. bisa ditebak seberapa ramenya, semua berkumpul disini menyaksikan acara yang dihelat sekali dalam setahun ini untuk menentukan sapi tercepat se Madura. Meskipun panas terik gak menyurukan niat untuk liat event ini. Panas, rame, desak-desakan, tapi yang penting puas bisa liat keseruan lomba balapan sapi pilihan dari tiap Kabupaten yang ada di Madura ini. Karena acara ini berlangsung cukup lama dan karena memori kamera sudah penuh, alhasil kami pun langsung menyudahi melihat event ini sekitar jam 1 siang. Serius panasnya gak main-main -_-
Karapan Sapi
Setelah liat karapan sapi kami mampir beli es bubur kacang ijo yang cukup terkenal di Pamekasan. tempatnya emang kaki lima di pinggir jalan tapi ramenya minta ampun. Entah emang buburnya yang enak atau faktor cuaca, yang jelas esnya sangat segar dinikmati di siang hari yang terik tadi. Untuk kali ini gak ada fotonya ya sorry lupa gak ngefoto saking hausnya pengen ngabisin esnya wkwkwk.

Puas lepas dahaga langsung dilanjutkan beli rujak khas Pamekasan. menurut saya rujaknya hampir sama dengan rujak cingur di Surabaya. Rujak disini berisikan sayuran dan cingur (mulut) sapi, yang membedakan hanya bumbu petis yang dipake disini berwarna coklat berbeda dengan Surabaya yang berwarna hitam, kayaknya sih beda dari bahan pembuatnya. Untuk rasa memang menurut saya rujaknya lebih enak dibanding yang di Surabaya.
Rujak Madura
Sore hari kami masih sempat istirahat, dapat info kalo malam hari akan ada pawai musik keliling di sekitar alun-alun. Sekitar jam 8 malam kami langsung menuju alun-alun dan benar saja sudah penuh sesak sama masyarakat yang ingin liat pawai musik ini. Lagi-lagi gara-gara telat akhirnya kami terpaksa jalan lumayan jauh untuk liat yang rombongan terdepan. Pawai berisikan mobil yang dihias dan para pemain musik bermain diatasnya. Lagunya sih campur mulai lagu madura sampai lagu dangdut hahaha. pawai musik berakhir tapi kami masih belum berakhir menghabiskan malam di Pamekasan ini. Seperti malam sebelumnya kami ngopi+nyusu di alun-alun tepatnya kali ini di depan Monumen Arek Lancor yang merupakan ikon dari Kab.Pamekasan ini. Monumen ini berbentuk tugu dari senjata tradisional Madura. Dibanding malam sebelumnya suasana alun-alun jauh lebih sepi.
Pawai Musik
Monumen Arek Lancor

Senin paginya sebenarnya masih ada karnaval drumband tapi terpaksa kami balik ke Surabaya dan kembali ke kehidupan nyata yaitu kuliah + nugas + ngerjain TA hahaha. entah kenapa niatan main ke Pamekasan kemarin yang awalnya Cuma pengen liat Karapan Sapi malah bertambah dengan berbagai event yang diadakan PemKab Pamekasan ini. Satu lagi manfaat dari punya teman yang asalnya jauh dari kota perantauannya yaitu kita bisa numpang ketika main ke kotanya *jangan ditiru ya kalo yang ini.

sekedar tips aja kalo main ke Madura, jangan lupa bawa sunblock karena 3 hari disini kulit saya sudah belang dan banyak yang bilang muka saya makin hitam padahal sebelumya udah hitam wkwkwk.

terimakasih sudah membaca sedikit cerita di pulau seberang ini.

Menikmati Wisata dan Budaya Kabupaten Pamekasan - Bagian 1


Pada postingan ini saya ingin berbagi cerita mengunjungi kabupaten Pamekasan yang ada di Pulau Garam alias Pulau Madura. Sebelum pekan UTS teman saya yang anak asli Madura bilang bahwa akan diadakan lomba karapan sapi yang merupakan budaya asli dari Madura. Event ini hanya sekali dalam setahun jadi sayang dong kalo dilewatkan haha. Singkatnya hari Sabtu tanggal 29 Oktober kemarin berangkat dari Surabaya dan tentu naik motor. Oh yah yang ikut ke Pamekasan ini ada 4 orang termasuk saya dan bayangin aja semalam sebelumnya yaitu Jumat malam baru sampai Surabaya setelah naik gunung di kota Batu, sabtu pagi jam 7 langsung berangkat ke kos yang lain dan jam 8 berangkat ke Pamekasan jelas saja butuh perjuangan yang cukup berat dengan badan yang masih capek semua.
Perjalanan dari Surabaya ke Pamekasan kami tempuh sekitar 3 jam. Kata temen saya sih ini termasuk pelan, dia kalo pulang kampung bisa Cuma sekitar 2 jam. Untuk ke Pulau Madura tentunya lewat Jembatan Suramadu karena ini akses terdekat daripada menyeberang naik kapal feri. Waktu perjalanan meskipun jalanan sepi tapi cuaca lumayan panas yang notabene merupakan ciri khas pulau garam ini. Jalan sepi dengan pemandangan sisi kanan pesisir laut dan sisi kiri merupakan bukit.
Jembatan Suramadu
Perjalanan 2 motor
Sekitar jam 11 kami sampai di rumah temen yang letaknya di pinggiran kota cuma sekedar meletakkan tas dan langsung berangkat ke alun-alun karena ada info lagi ada karnaval hari jadi Kab.Pamekasan. Sekitar 10 menit sudah sampai di kota tapi karena karnaval dimulai dari pagi hari alhasil kami hanya liat bagian akhirnya yang Cuma ada beberapa rombongan karnaval aja. Karnaval ini menampilkan budaya dan kesenian dari suku Madura. Para peserta merupakan pelajar dari berbagai sekolah dan juga berbagai instansi dari Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Sekitar 30 menit kami liat karnaval ini sampai rombongan terakhir lewat.
Karnaval Pamekasan
Kemudian kami lanjutkan ke event lain yaitu Festival Sapi Sonok. Festival ini merupakan rangkaian event sebelum event karapan sapi hari Minggu esoknya. Dari alun-alun langsung menuju stadion yang digunakan untuk acaranya. Sesuai namanya event ini lomba untuk sapi. Para sapi betina dilombakan kecantikan dan keanggunannya saat berjalan. Jadi wajar aja para sapi dipasangin berbagai aksesoris yang cantik.
Festival Sapi Sonok
Puas liat festival yang cukup rame, tentu kami harus isi perut karena belum makan siang. Temen saya rekomendasi makanan khas disana namanya Kaldu. Saya kira ini makanan apa ternyata ini bisa dibilang mirip dengan Kikil yang ada di Surabaya. Rasa dan isinya itu sama yaitu bagian dari kaki sapi, makannya pun dilengkapi dengan lontong.
Kaldu Kikil
Kaldu yang Kami Pesan
Kami sempat berkeliling kota sampai sore hari yang kemudian balik kerumah temen tadi buat sekedar istirahat dan mandi. Enaknya ada temen di kota lain ya gini ada tempat numpang tidur atau bahkan bisa numpang makan. Buktinya dirumah ini saya disuguhi dengan makanan khas dari Madura yaitu Campur Lorjuk. Makanan berkuah ini bahan utamanya adalah kerang Lorjuk yang ada banyak disini dilengkapi dengan keripik. Untuk rasa saya gabisa gambarin gimana karena belum ada makanan yang rasanya mirip ini yang jelas enak rasanya hahaha.
Campur Lorjuk
Malam minggunya kami putuskan untuk ke Api Tak Kunjung Padam. Lokasinya ini dekat perbatasan antara Kabupaten Sampang dan Pamekasan. dari kota ditempuh sekitar 15-20 menit. Tempat ini terdapat sebuah spot yang di tanahnya muncul api secara terus menerus maka dari itu dinamakan Api Tak Kunjung Padam atau Api Abadi. Kata temen saya sih apinya sekarang cukup kecil ditutupi dengan tanah biar tidak terlalu membahayakan. Lokasinya cukup ramai dikunjungi orang yang sedang wisata di Madura dan di sekitar titik api banyak yang jual jagung karena bisa langsung bakar jagungnya di apinya.
Api Tak Kunjung Padam
Puas main api *eh kami balik lagi ke alun-alun. Disini kami hanya menghabiskan waktu dengan menikmati suasana malam Pamekasan dengan ngopi+nyusu di pinggir jalan. Kebetulan dengan hari jadi kota maka di sekitar alun-alun ini akan ramai dengan segala event untuk beberapa hari. Tak lupa kami juga mampir ke gedung Karesidenan Kab.Pamekasan. gedung ini sepertinya gedung serba guna dan terbuka untuk umum dengan lapangan yang luas jadi dapat dimanfaatkan untuk sekedar nongkrong. Sekitar jam 11 kami balik kerumah untuk istirahat.
Gedung Karesidenan

bersambung ke bagian 2