Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan

Menikmati Senja di Pantai Sembilan Pulau Gili Genting Sumenep


Setelah lama gak update blog ini, saya menyempatkan untuk mengisi suatu tulisan tentang pengalaman liburan beberapa minggu lalu ke Pantai Sembilan, Pulau Gili Genting, Sumenep, Madura. Pulau ini terletak di sebelah selatan kabupaten Sumenep, tapi gak sejauh Pulau Gili Labak.
Pantai Sembilan Gili Genting
Singkat cerita liburan ini merupakan rencana dadakan di tengah pekan UTS, dan rombongan pun hanya 6 orang yang bergabung termasuk saya. Dari Surabaya ke Kabupaten Sumenep perlu waktu sekitar 3,5 hingga 4 jam untuk sampai ke pelabuhan penyeberangan. Oh ya sekedar info aja kalo pelabuhan penyeberangannya ini terletak di kecamatan Bringsang Kabupaten Sumenep dan pelabuhannya pun tidak terlalu besar, karena hanya kapal-kapal kecil yang bersandar disini. Jadi buat kalian yang ingin kesini silahkan tanya warga setempat saja daripada kesasar hehe. sekalian saya beri google mapnya.
Pelabuhan Penyeberangan

Motor bisa ikut naik kapal
Kami berencana ingin menjelajah keliling pulau karena pulaunya cukup luas jadi motorpun kami bawa menyeberang. Sempat kepikiran gimana motor kami masuk ke perahu, namun setelah liat langsung prosesnya pasti timbul satu kalimat, “ada saja akalnya” haha. Perahunya cukup besar yang dapat menampung sekitar 10 motor dan penumpang-penumpang lain. Untuk biaya penyeberangan Rp 10ribu per orang. Dan Rp 5ribu per motor.
Proses menaikkan motor ke kapal
Dari pelabuhan ke Pulau Gili Genting waktu tempuh sekitar 15-30 menit. Di tengah laut waktu menyeberang pun kita bisa melihat rumpon atau tempat nelayan setempat menangkap ikan. Begitu kami sampai pulau dan motor sudah diangkat ke daratan, kami tidak langsung ke Pantai Sembilan tapi kami menuju pantai lain karena berdasarkan info yang kami dapat terdapat 3 spot pantai di pulau ini. 3 pantai tersebut adalah Pantai Sembilan, Pantai Sorok, dan Pantai Kahuripan.
Pemandangan pulau dari laut
Oh ya waktu menurunkan motor dari kapal pun dipungut biaya yang kata teman saya cukup Rp 2ribu saja, tipsnya sih jangan tanyakan tarifnya berapa tapi langsung saja beri uang dengan nominal tersebut.

Sekitar pukul 3 sore kami sempatkan sholat dulu di Masjid yang berada tepat didepan pelabuhan lalu langsung menuju Pantai Sorok yang ada di sisi barat pulau. Jalan di pulau ini masih tanah berbatu jadi jelas penuh debu dan cukup “menggoyang” motor. Pantai Sorok ini tempatnya sepi dan menurut saya biasa aja sih karena memang bukan spot wisata utama. 
Pantai Sorok
Setelah sempat berfoto sedikit, kami langsung menuju ke timur pulau menuju Pantai Kahuripan. Perjalanan cukup lama karena jalan yang tidak terlalu bagus juga kami sempat kesasar. Menurut info warga setempat pantainya masih lumayan jauh dan lebih baik kesana pagi karena saat malam jalan pulau ini tidak ada penerangannya. Alhasil karena kami terlalu sore, akhirnya langsung menuju Pantai Sembilan.
Loket masuk Pantai Sembilan
Apesnya penginapan pun penuh
Pantai Sembilan ini merupakan spot wisata utama di pulau ini. Untuk masuknya cukup membayar Rp 5ribu per orang dan motor tidak perlu bayar. Disini cukup ramai warung yang jual makanan jadi gak usah takut kelaparan kalo gak bawa bekal dan harganya pun masih standard harga di tempat wisata umumnya. Di pantai ini terdapat beberapa pondok yang bisa disewa untuk menginap dengan harga sekitar Rp 200ribu-300ribu per malam dengan kapasitas 5-10 orang. Tapi zonk-nya kami sih gak dapat penginapan dan akhirnya memutuskan untuk camping di pantai tapi tanpa tenda hahaha. Buat yang ingin camping disini boleh saja dengan membawa tenda sendiri atau memanfaatkan gazebo yang ada di pantai.
Fasilitas untuk berfoto
Pondok untuk penginapan
Spot indah untuk menikmati sunset
Berhubung kami kesini bukan saat libur panjang, pantai pun cukup sepi untuk kami menikmati sunset dengan nuansa private beach ini wkwkwk. Buat foto-foto pun sangat mendukung karena disediakan banyak fasilitas yang photo-able. Pokoknya worth it banget lah buat dinikmati bareng pasangan atau teman-teman.
View Pantai Sembilan
Sunset
Sunset di ayunan
Saat malam pun pulau ini masih dialiri listrik menggunakan diesel jadi gak perlu bingung charge gadget ataupun menikmati langit dengan bintangnya di pantai ini. Untuk tempat tidur, kami memanfaatkan gazebo yang ada di pantai. Kebayang kan rasanya kena angin laut waktu tidur hahaha
Pagi hari merupakan saatnya main air. Disini terdapat persewaan snorkel, pelampung, canoe, dan banana boat. Untuk tarif banana boat Rp 200ribu untuk maksimal 6 orang, dan lainnya cukup Rp 25ribu per orang. Kami pun sempat bermain di laut dengan snorkel dan canoe.
Pantai Sepi
Sunset lainnya
Banana Boat yang bisa disewa
Menurut saya untuk pasir dan karang di pantainya masih kalah bagus dengan yang ada di Gili Labak, tapi dari segi jarak yang ditempuh dan fasilitas di pantai untuk sekedar refreshing pantai ini merupakan salah satu pilihan yang pantas didatangi.
Sunrise di Pantai Sembilan
Jadi kalo dihitung-hitung liburan kemarin cukup mengeluarkan dana sekitar Rp 150ribuan untuk satu orang. Dengan detail :
  • Penyeberangan untuk orang PP Rp 20ribu
  • Penyeberangan untuk motor PP Rp 14ribu (sudah termasuk menurukan motor dari kapal
  • Tiket masuk Pantai Sembilan Rp 5ribu
  • Bensin motor (patungan) Surabaya-Sumenep PP Rp 50ribu
  • Biaya lain-lain untuk makan dan sewa alat main air

Itulah sedikit cerita saya main ke Pantai Sembilan, Pulau Gili Genting, Kabupaten Sumenep, Madura. Sebenernya setelah dari pulau ini kami sempat main-main di Sumenepnya sih, tapi gak saya ceritakan karena nanti malah gak fokus tulisannya hehe

Kalo ada pertanyaan mungkin bisa tinggalkan di komentar postingan ini.
Terimakasih. 

Pendakian Gunung Penanggungan Via Jalur Tamiajeng Trawas


sudah lama gak update blog ya karna repot siding progress tugas akhir 😃

jadi ceritanya ini disempatkan main ke gunung diantara waktu libur semester yang cuma 1 minggu. Dengan adanya ajakan naik ke Gunung Penanggungan dadakan ini akhirnya saya putuskan untuk join rombongan yang cuma 1 orang termasuk diri saya.
Puncak Pawitra Penanggungan
Gunung Arjuna dari Puncak Pawitra
Oh ya kami naik ke Gunung Penanggungan ini via jalur Tamiajeng Trawas karena ini merupakan jalur yang paling mudah untuk pemula seperti saya diantara 4 jalur yang ada untuk ke Gunung Penanggungan. Sebenarnya banyak jalur untuk mendaki gunung yang katanya Miniatur Gunung Semeru ini diantaranya jalur Jolotundo, jalur Gempol dan jalur dari Jedong Ngoro.

Pos Basecamp Tamiajeng
Basecamp atau Pos 1 jalur Tamiajeng Trawas ini ada pas di sebelah Ubaya Training Center (UTC), jadi dari setelah putar balik setelah masjid Cheng Hoo Pasuruan, naik ke Trawas tinggal pake GPS atau tanya aja ke warga jalur ke UTC ini atau ke Tamiajeng, dijamin semua warga sana pasti tau dan baik hati memberi info.

Hari Jumat siang saya dan kawan-kawan mulai packing dan persiapan logistic yang rencana sore hari berangkat. Dari kampus di Surabaya jam 17.30 sampai ke basecamp jam 21.00 dikarenakan selain jalan macet juga terjadi insiden teman saya yang gak tahu jalan malah nyasar.
Sesampainya di basecamp kami langsung menuju pos untuk daftar ke petugas dan mendengarkan briefing, tak lupa kami membayar biaya masuk 10ribu per orang juga diberi kantong plastik untuk sampah dan juga peta jalur pendakian.
Base Camp Tamiajeng
Start Pendakian
Sebelum mulai pendakian, silahkan isi penuh stok air untuk masak atau minum karena diatas Gunung Penanggungan ini tidak ada sumber mata air jadi semua harus disiapkan dari basecamp. Sekitar jam 22.00 kami start pendakian. Jangan tanya bagaimana dokumentasi saat pendakian karena pake kamerapun hasilnya gelap gulita jadi hape disimpan untuk pagi hari. Bayangkan saja bagaimana rasanya pendakian tengah malam saat itu gerimis dan kondisi lapar karna warung di basecamp sudah tutup semua haha. Foto dokumentasi ini diabadikan saat turun atau kondisi siang hari.
Trek dari pos 1 (kiri) dan trek dari pos 3 (kanan)
Dari pos 1 ke pos 2 trek masih relatif datar bahkan diawal jalannya turunan. Berdasarkan peta yang saya dapat dari petugas, jarak pos 1 ke pos 2 ini 2,4 KM dan waktu itu kami berhasil menempuhnya dalam waktu 30 menit. Saat siang hari di pos 1 ini akan ada warung yang jual makanan dan minuman. Setelah berisitirahat 5 menit di bawah cuaca gerimis rintik-rintik kami lanjutkan pendakian. Mulai dari pos 2 ini jalan sedikit menanjak dan cukup licin karena jalan ini merupakan jalur air turun dari atas. Pos 2 sampai puncak bayangan ini jaraknya 2 KM namun karena trek yang menanjak untuk sampai ke pos 3 butuh waktu sekitar 30 menit. Pos 3 ke pos 4 butuh waktu 1 jam dan pos 4 ke puncak bayangan jalanan sangat menanjak butuh waktu 1 jam. Jadi dari pos 1 sampai puncak bayangan kami butuh waktu 3 jam karena nafas saya yang ngos-ngosan gak pernah olahraga wkwk. Normalnya sih memang 2-3 jam. Jam 1 malam kami baru sampai puncak bayangan dan langsung mendirikan tenda karena saat itu langsung hujan badai sampai baju kami lumayan basah. Beberapa tenda di sini juga ada yang rubuh kena angin.
Puncak Pawitra dari Puncak Bayangan
Puncak Pawitra
Puncak Bayangan
Puncak bayangan ini merupakan sebuah tanah datar yang cukup luas dan biasa dijadikan tempat camp ground para pendaki. Saat pendakian, puncak bayangan ini seperti puncak Gunung Penanggungan tapi puncak sebenarnya masih jauh. Biasanya jam 3-4 pagi barulah naik ke puncak pawitra untuk berburu sunrise, namun karena kami baru tidur jam setengah 2 pagi akhirnya kami baru naik jam 5. Normalnya ke puncak sekitar 30 menit tapi saya baru sampai atas jam 6 pagi alias 1 jam perjalanan. Trek menuju puncak ini tidak ada datarnya melainkan tanjakan dengan kemiringan 70-80 derajat dan jalan batuan kecil sampai besar. Gagal mendapat sunrise alhasil foto-foto apa adanya. Dari puncak ini dapat terlihat puncak gunung Arjuna Welirang. Jika beruntung dapat terlihat Gunung Semeru dan Pegunungan Bromo. Dari puncak ini juga terlihat jalur lain untuk menuju puncak ini. Sejak tahun 2015 di Puncak Penanggungan dipasang tiang Bendera. Jadi menambah Nasionalisme kita, disisi bawah juga terdapat makam kecil "mbah penanggungan" katanya. Saya sendiri belum pernah kesana.
Pemandangan di puncak
Lembah Gunung
Trek turun dari puncak ke puncak bayangan
Puas foto-foto langsung turun sekitar jam 8 pagi. Dari atas sini waktu mau foto puncak bayangan malah tertutup kabut. Sesampainya di tenda kami langsung masak makanan karena bias dibilang dari semalam perut belum terisi makanan berat, hanya terisi air minum dan roti + madu.
Makan siang
Partner Naik Kemarin
Setelah makan sekitar jam 11.30 kami turun dari puncak bayangan untuk pulang. Kebetulan ini adalah hari sabtu jadi banyak rombongan yang baru saja naik. Perjalanan turun kami tempuh sekitar 2 jam. Sengaja turunnya pelan karena otot kaki sempat keram dan jalannya licin daripada malu terpeleset wkwk.

Mungkin lain waktu jika saya kesini lagi mungkin lebih banyak dan lebih bagus dokumentasi yang diambil.

Bisa dibilang perjuangannya sebanding dengan pemandangan yang diperoleh untuk sekedar short trip. Dari segi berat medan jalur via Tamiajeng Trawas ini relatif mudah untuk pemula atau wanita. Beberapa teman saya latihan sebelum naik Gunung Semeru juga naik ke Gunung Penanggungan ini terlebih dulu.

Pengalaman Menonton Karapan Sapi Secara Langsung


Sebenarnya tujuan utama ke Pamekasan sendiri adalah untuk melihat perhelatan event Karapan Sapi yang hanya digelar satu kali tiap tahunnya. Tepatnya yang menjadi tuan rumah adalah Kabupaten Pamekasan. Mungkin banyak yang sudah tahu dan bahkan sering di buku-buku sekolah mengenai informasi bahwa karapan sapi ini merupakan budaya asli dari Madura.
Karapan Sapi
Setelah sehari sebelumnya diadakan Festival Sapi Sonok, hari Minggu tanggal 30 Oktober ini masih di tempat yang sama yaitu di Stadion R.Soenarto Hadiwidjojo diadakan lomba karapan sapi.
Sekitar jam 10 pagi kami langsung pergi menuju stadion. Berbeda dengan hari sebelumnya yang ramai tapi masih lancar untuk parkir atau jalan, siang ini di stadion parkiran penuh bahkan sampai membuat macet jalan raya. Untuk parkir motor saja kami harus mencari cukup jauh dan itu pun bukan tempat parkir tetapi sebuah gedung pemkab yang disulap mejadi parkiran dadakan.
Di siang hari yang sangat panas kami berjalan menuju stadion. Diluar stadion banyak masyarakat yang menonton dari luar dengan memanjat pagar stadion atau melihat dari atas truk, yup yang penting bisa liat hahaha. acara ini tidak dikenakan tiket masuk dan saya pun langsung cari spot yang bisa take foto dengan angle terbaik yaitu di dekat finish. Maklum saja saya hanya pake kamera dengan lensa standart, tidak seperti para jurnalis atau fotografer yang sudah profesional menggunakan lensa tele zoom dengan ukuran yang panjang-panjang.
sampai naik pagar
ramainya antusiasme masyarakat
di sekitar garis finish
Karapan sapi ini memperebutkan Piala Presiden Bergilir. Semua peserta yang ikut merupakan perwakilan yang telah mengikuti seleksi di tiap Kabupaten jadi ada total 16 peserta yang mengikuti lomba karapan sapi ini. Jadi selain mewakili tim mereka sendiri, tiap peserta juga mewakili kabupaten asal mereka.

Pemenang adalah yang paling cepat sampai garis finish
Secara teknis lomba ini sebenarnya cukup sederhana, yakni dua peserta akan lomba adu cepat sampai di garis finish dengan jarak sekitar 80-90 meter (berdasarkan panjang lapangan stadion). Tapi berbeda dengan lomba balapan umumnya, karapan sapi ini nantinya ada juara Menang dan juara yang kalah. Dari balapan putaran pertama, pasangan sapi yang menang akan dilombakan dengan para peserta yang menang dan yang kalah akan dilombakan dengan peserta yang kalah sehingga nanti akan diperoleh dua juara.
Lintasan Balapan
Balapan
Salah Satu Peserta
Setiap pasang sapi akan ada seorang joki. Joki ini biasanya adalah anak kecil atau remaja agar bobotnya ringan dan sapi bisa lari lebih kencang. Setiap sapi yang akan berlomba dimasukkan ke dalam area pelepasan. Disini setiap sapi akan disiapkan oleh joki dan para official tim. Setiap peserta diberikan batas waktu 10 menit untuk persiapan. Jika kedua peserta sudah siap sebelum batas waktu habis, maka balapan akan langsung dimulai. Namun jika ada peserta yang belum siap maka tetap saja sapi harus langsung dilepas atau dianggap kalah.

Mencoba mengambil foto yang penuh tantangan
Untuk sekedar ambil foto sangat susah, selain penonton yang sangat banyak juga harus was-was jika joki gagal mengendalikan sapi maka sapi bisa saja menabrak para penonton. Karena saya datang siang hari maka spot terbaik hanyalah di dekat finish yang memacu adrenalin hahaha
Dekat Banget -_-
Saya juga menyempatkan melihat di dekat area pelepasan. Disini setelah sapi dilepas akan ada banyak orang yang membunyikan peralatan yang digunakan agar sapi berlari lebih kencang. Peralatan yang digunakan bermacam-macam mulai dari kaleng bekas hingga lonceng. Yang jelas semua alat yang bunyinya berisik.
Area Pelepasan
Mulai Start
Hadiah yang diperoleh cukup menggiurkan
Hadiah dari karapan sapi ini adalah sebuah mobil tentu sebuah hadiah yang cukup besar untuk event seperti ini. Menurut info yang saya dengar kalo sapi yang menjadi juara disini harganya bisa naik ratusan juta. Saya kira harga itu sebanding dengan perawatan yang dilakukan pemilik sapi seakan-akan sapinya ini merupakan sapi spesial. Kenapa spesial ? di salah satu tenda tempat perawatan sapi salah satu tim saya lihat sapi ini diberikan perlakuan khusus seperti diberikan jamu bahkan ada tukang pijatnya sendiri.
Tenda Perawatan
Daaannn tujuan awal saya datang ke Pamekasan ini sudah tercapai yaitu melihat secara langsung dengan mata kepala saya sendiri wkwk sorry lebay. Padahal gak nonton sampai selesai, Cuma setengah balapan yang ada. Yang penting sudah liat lah dan tahun ini yang menjadi juara dari Kabupaten Sampang. Selamat untuk para pemenang dan tetap lestarikan budaya asli Indonesia J

Api Tak Kunjung Padam, Api Alami Abadi di Pulau Garam


Masih cerita di Pulau Madura tepatnya di Kabupaten Pamekasan, disini terdapat sebuah objek wisata bernama Api Tak Kunjung Padam atau orang sekitar mengenalnya dengan sebutan Wisata Api Alam. Yap di tempat ini ada sebuah wilayah yang dari bawah tanah mengeluarkan api terus menerus meskipun diguyur hujan dan semua ini terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia.

Menikmati malam minggu di jalanan
Untuk ke objek wisata satu ini kami menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari tengah kota Pamekasan menuju perbatasan antara Pamekasan dan Sampang. 15 menit tadi ditempuh dengan naik motor dan kecepatannya sedang sambil menikmati jalanan Pamekasan, mungkin efek malam minggu kali ya hahaha.
Dari pinggir jalan raya akan ada tulisan Sekolah Luar Biasa Api Alam dan masuk gang di sebelah tulisan tersebut. Setahu saya kalo dari Sampang menuju Pamekasan akan ada Tulisan yang lebih jelas tentang objek wisata ini. Sumber api ini sempat dikenal luas ketika pagelaran PON yang lampau (kurang tau tepatnya tahun berapa) menggunakan api dari tempat ini untuk menyalakan obornya.
Tempat Masuk ke Tempat Wisata
Sekitar 50 meter setelah masuk kedalam gang akan sampai di gerbang parkir tempat ini. Terdapat parkiran motor dan parkiran kendaraan besar semisal bus atau mobil. Untuk motor ditarif 3000 rupiah. Dari parkiran masih harus jalan kaki sekitar 30 meter untuk menuju ke spot api nya. Saat berjalan tadi di kiri kanan jalan banyak orang berjualan jajanan ataupun souvenir khas Madura. Tempat ini cukup ramai dikunjungi karena menjadi salah satu wisata yang didatangi saat orang ziarah di Madura atau sekedar main ke Pamekasan kayak kami ini.
Tempat Parkir
Penjual Souvenir di Jalanan
Konon ramai terdengar sebuah cerita lama dan sangat dipercaya oleh warga sekitar bahwa sejarah semburan nyala api atau api alam tersebut pertama kali ditemukan oleh Ki Moko dan sebuah sumber air belerang di dusan Jangkah, Ki Moko merepukan seorang yang terkenal sakti di Madura pada kala itu.

Sesampainya di tempat api menyala, sudah banyak anak-anak yang sedang membakar jagung. Di sekitar sini banyak juga penjual jagung manis yang siap untuk langsung dibakar. Salah satu temen saya yang belum makan malam pun langsung beli jagung yang cuma seharga 2000 rupiah.
Nenek Penjual Jagung
Lagi Bakar Jagung
Api sekarang dalam kondisi kecil dan keluar dari beberapa titik
Untuk kondisi api sekarang memang terlihat kecil yang wilayah tanahnya diberi pagar besi untuk batas aman. Api tersebut keluar dari bawah tanah mungkin saja ada sumber gas dari bawah tanah, namun setahu saya belum ada penelitian lebih lanjut. Temen saya yang anak asli Pamekasan sini bilang kalo dulunya ada dua titik tempat keluarnya api namun salah satunya sudah ditutup dengan tanah dan yang sekarang dikunjungi ini sebagian besar sudah ditutup tanah karena terlalu membahayakan juga. Anehnya, di tempat ini tanah yang mengeluarkan api hanya sebidang tanah dengan diameter lingkaran sekitar 5 meter. Cukup luas dan hawa di sekitar api memang lumayan panas. Namun ketika anda menggali tanah diluar wilayah tadi atau diluar pagar, tidak akan ada api yang keluar.
Api Tak Kunjung Padam
Puas menikmati api abadi ini saya dan teman-teman langsung kembali ke pusat kota karena masih banyak tempat yang perlu dikunjungi saat malam minggu tersebut. Tempat wisata ini wajib anda kunjungi saat berwisata di Pulau Madura terutama jika melalui Kabupaten Pamekasan. Api Tak Kunjung Padam menawarkan sebuah wisata yang unik dan sangat langka di Indonesia sekalian anda berbelanja oleh-oleh khas Madura di tempat ini.
Stan Penjual Souvenir
Stan Penjual Souvenir

Festival Sapi Sonok, Potret Keanggunan Sapi Madura

Ini merupakan cerita detail waktu saya main ke Kabupaten Pamekasan, Madura. Tepatnya hari Sabtu tanggal 29 Oktober lalu setelah saya dan temen-temen baru sampai Pamekasan, langsung menuju ke Stadion R.Soenarto Hadiwidjojo yang merupakan tempat perhelatan festival sapi sonok. Festival sapi sonok ini merupakan salah satu budaya yang ada di Pulau Garam Madura.
Stadion Lokasi Festival
Panggung Acara
Festival adu kecantikan antar sapi betina
Yup festival ini termasuk rangkaian event sebelum acara puncak yaitu lomba karapan sapi dan biasanya diadakan sehari sebelum karapan sapi. Seperti event tahunan pada umumnya yang jelas isi stadion ini penuh dengan masyarakat yang ingin melihat festival sapi sonok tingkat Madura.
Peserta Sapi Sonok
Berdandan dengan Aksesoris
Festival sapi sonok ini sendiri berbeda dengan karapan sapi yang beradu kecepatan untuk sampai garis finish terlebih dahulu, sapi sonok ini yang digunakan adalah sapi betina dan yang dinilai adalah kecantikan sapi serta kekompakan langkah kaki menuju garis finish.
Latihan
Garis Start
Di dalam stadion ada wilayah khusus tempat para sapi ini sebelum tampil. Para sapi didandani dengan banyak aksesoris untuk mempercantik penampilan. Para peserta merupakan sapi-sapi pilihan dari berbagai penjuru Madura yang secara khusus dihias dan dirawat oleh pemiliknya. Dari info yang saya dapat harga sapi sonok ini berkisar puluhan juta. Sebelum mengikuti festival ini para pemilik sudah memesan aksesoris yang akan dipakai sapi. Bahannya ada yang dari perak bahkan emas. Satu set aksesoris yang dipakai sapi ini bisa mencapai 5 juta rupiah.
Pawang di Belakang Sapi
Garis Finish
Pawang yang Ikut Menari
Yang paling anggun dan kompak yang menang
Teknis perlombaan sebenarnya cukup sederhana yaitu dalam satu babak akan ada tiga pasang sapi yang berlomba. Dari garis start sapi diharuskan berjalan dengan anggun dan kompak antara sapi kanan dan sapi kiri. Di belakang sapi terdapat pawang atau pelatih yang mengendalikan sapi dengan tali. Pada saat sapi berjalan akan ada iringan musik sehingga pawang yang hebat bisa menari secara kompak dengan sapi yang ada di depannya. Tentu itu bukan hal mudah, bayangin aja menuntun dua sapi biar jalan kompak dan anggun pula. Sesampainya di garis finish, kaki depan sapi diharuskan menginjak balok kayu dan tidak boleh berpindah sampai musik selesai. Kelihatannya sih mudah tapi banyak juga pawang yang gagal mengendalikan sapinya sampai sapi berjalan terlalu cepat atau tidak berjalan lurus. Setelah musik berhenti, terdapat tim juri yang menilai poin tiap peserta dengan akumulasi berdasarkan kesalahan yang dilakukan sapi peserta. Saya sendiri juga kurang tau kesalahan seperti apa yang mengurangi poin yang jelas juri pasti akan menyebutkan jumlah poin tiap peserta.

Musik Tradisional Pengiring
Dewan Juri
Untuk arena pertandingan sapi sonok ini tidak terlalu jauh atau lebar, cukup menggunakan sebagian lapangan stadion. Yang menarik perhatian disini adalah ketika melihat peserta yang akan tampil melakukan latihan di sisi lain lapangan. Kenapa saya bilang menarik ? karena setiap ada peserta yang latihan akan membawa rombongan yang main musik sehingga suasana semakin ramai. Apalagi ketika terdapat wanita biduan yang ikut dalam rombongan peserta yang latihan ini, pasti akan semakin banyak orang yang datang untuk memberikan saweran. Tenang saja ini sudah merupakan tradisi jadi tidak perlu berpikir yang aneh-aneh hahaha.
Rombongan Latihan
Budaya lokal ini sudah mendapatkan paten agar tak bisa diakui bangsa lain
Festival sapi sonok ini merupakan budaya dan tradisi Madura yang telah memiliki hak paten dari Menkumham jadi harapannya kedepan tidak akan ada bangsa lain yang mengakui budaya ini merupakan milik mereka. Sapi sonok belum mendapatkan pengakuan dari pemerintah pusat, sehingga piala yang diberikan kepada peserta hanya piala lokal, sedangkan karapan sapi, merupakan Piala Bergilir Presiden RI.
Asisten Pawang di Garis Finish
Saya sendiri juga kurang tahu apa hadiah dari festival sapi sonok ini karena gak mengikuti sampai akhir acara. Yang jelas sapi yang menjadi juara harganya akan naik sampai ratusan juta rupiah karena merupakan sapi terbaik yang mengikuti acara ini. Bisa dibilang saya beruntung karena dapat melihat secara langsung festival ini yang hanya diadakan sekali dalam setahun dan merasakan kemeriahan dari budaya asli Madura. kalo di event ini kita bebas mau ambil foto dari angle manapun bahkan bisa selfie sama sapinya.


Sempet Selfie Sama Sapi