Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Watu Semar, Cerita Mistis Batu Raksasa di Alun-Alun Bojonegoro


Akhirnya bisa menyempatkan waktu untuk mengisi blog ini, maklum saja karena kesibukan kerja dan kerja saya di luar kota Surabaya, tepatnya di Kabupaten Bojonegoro.

Kebetulan di akhir pekan saya sempatkan main ke alun-alun Bojonegoro. Disini ada salah satu tempat yang menarik perhatian yaitu Watu Semar. Watu Semar ini merupakan sebuah batu besar dengan ukuran sekitar 4x3 meter yang ada di sisi timur alun-alun Bojonegoro tepatnya di seberang Pendapa Pemkab.
Batu Semar
Setelah ngobrol sama teman saya yang orang asli Bojonegoro, dia bilang kalo Watu Semar ini letak asalnya tidak di alun-alun ini tetapi dipindahkan dari dalam hutan yang ada di kawasan Dusun Bendotan, Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Bojonegoro. Pemindahan batu ini merupakan ide dari Bupati yang menjabat saat itu untuk menjadikan batu ini sebagai prasasti kebanggaan Kabupaten Bojonegoro. Kisaran biaya yang dibutuhkan sekitar 250-300juta.

Dari cerita teman saya, batu ini awalnya merupakan batu yang diselimuti kekuatan mistis. Terbukti pada saat proses pemindahan dari lokasi asal batu ini ke alun-alun banyak kejadian mistis. Saya sebagai pendatang pun cuma bisa percaya dari cerita teman saya tersebut. Kemudian saya cari info mengenai proses pemindahan batu ini dan saya menemukan web ini yang menceritakan secara detail proses pemindahan dari awal hingga sampai alun-alun seperti saat ini.

Berdasarkan info yang saya kutip dari web tersebut Salah satu kejadian mistis adalah terputusnya tali baja pada mesin crane saat sedang mengangkat batu tersebut. Peristiwa itu terjadi ketika tanah sekitar Batu Beluk telah dilubangi sedalam sekira satu meter untuk memudahkan mesin crane mengangkatnya. Tapi justru yang terjadi batu menancap semakin kokoh seperti tak mau diangkat. Beberpa kali operator crane mencoba mengangkat batu tersebut dengan kawat baja yang dikaitkan pada batu. Dalam ritual itu paranormal mengaku melihat ada penunggu (mahkluk halus) di Batu Beluk. Penunggunya bukan hanya satu, melainkan banyak.
Proses Pemindahan Batu
Beberapa syarat pun digunakan dalam ritual. Di antaranya menggelar selamatan dengan melengkapi sesaji seperti jajanan pasar, kembang setaman, dan pembakaran dupa.  Hasilnya, batu tetap tak dapat dipindahkan ke trailer. Sempat terangkat setinggi sekira 20 centi meter (CM), batu kembali jatuh karena kawat baja terputus. Sehingga menimbulkan suara cukup keras diserta dengan gempa di sekitar lokasi. Padahal, secara logika, seharusnya crane itu dapat mengangkat Batu Semar. Karena kekuatan crane melebihi dari berat batu. Melihat kejanggalan itu, akhirnya sejumlah paranormal dan kyai didatangkan untuk membantu melihat hal gaib yang ada di Batu Beluk.

Untuk cerita lengkapnya silahkan buka web yang saya kutip tersebut ya haha

Terlepas dari hal mistis yang dimiliki batu ini, menurut saya Watu Semar ini telah menjadi salah satu ikon di Kabupaten Bojonegoro dan tentunya harus anda kunjungi ketika di Kabupaten Bojonegoro.


Menikmati Senja di Pantai Sembilan Pulau Gili Genting Sumenep


Setelah lama gak update blog ini, saya menyempatkan untuk mengisi suatu tulisan tentang pengalaman liburan beberapa minggu lalu ke Pantai Sembilan, Pulau Gili Genting, Sumenep, Madura. Pulau ini terletak di sebelah selatan kabupaten Sumenep, tapi gak sejauh Pulau Gili Labak.
Pantai Sembilan Gili Genting
Singkat cerita liburan ini merupakan rencana dadakan di tengah pekan UTS, dan rombongan pun hanya 6 orang yang bergabung termasuk saya. Dari Surabaya ke Kabupaten Sumenep perlu waktu sekitar 3,5 hingga 4 jam untuk sampai ke pelabuhan penyeberangan. Oh ya sekedar info aja kalo pelabuhan penyeberangannya ini terletak di kecamatan Bringsang Kabupaten Sumenep dan pelabuhannya pun tidak terlalu besar, karena hanya kapal-kapal kecil yang bersandar disini. Jadi buat kalian yang ingin kesini silahkan tanya warga setempat saja daripada kesasar hehe. sekalian saya beri google mapnya.
Pelabuhan Penyeberangan

Motor bisa ikut naik kapal
Kami berencana ingin menjelajah keliling pulau karena pulaunya cukup luas jadi motorpun kami bawa menyeberang. Sempat kepikiran gimana motor kami masuk ke perahu, namun setelah liat langsung prosesnya pasti timbul satu kalimat, “ada saja akalnya” haha. Perahunya cukup besar yang dapat menampung sekitar 10 motor dan penumpang-penumpang lain. Untuk biaya penyeberangan Rp 10ribu per orang. Dan Rp 5ribu per motor.
Proses menaikkan motor ke kapal
Dari pelabuhan ke Pulau Gili Genting waktu tempuh sekitar 15-30 menit. Di tengah laut waktu menyeberang pun kita bisa melihat rumpon atau tempat nelayan setempat menangkap ikan. Begitu kami sampai pulau dan motor sudah diangkat ke daratan, kami tidak langsung ke Pantai Sembilan tapi kami menuju pantai lain karena berdasarkan info yang kami dapat terdapat 3 spot pantai di pulau ini. 3 pantai tersebut adalah Pantai Sembilan, Pantai Sorok, dan Pantai Kahuripan.
Pemandangan pulau dari laut
Oh ya waktu menurunkan motor dari kapal pun dipungut biaya yang kata teman saya cukup Rp 2ribu saja, tipsnya sih jangan tanyakan tarifnya berapa tapi langsung saja beri uang dengan nominal tersebut.

Sekitar pukul 3 sore kami sempatkan sholat dulu di Masjid yang berada tepat didepan pelabuhan lalu langsung menuju Pantai Sorok yang ada di sisi barat pulau. Jalan di pulau ini masih tanah berbatu jadi jelas penuh debu dan cukup “menggoyang” motor. Pantai Sorok ini tempatnya sepi dan menurut saya biasa aja sih karena memang bukan spot wisata utama. 
Pantai Sorok
Setelah sempat berfoto sedikit, kami langsung menuju ke timur pulau menuju Pantai Kahuripan. Perjalanan cukup lama karena jalan yang tidak terlalu bagus juga kami sempat kesasar. Menurut info warga setempat pantainya masih lumayan jauh dan lebih baik kesana pagi karena saat malam jalan pulau ini tidak ada penerangannya. Alhasil karena kami terlalu sore, akhirnya langsung menuju Pantai Sembilan.
Loket masuk Pantai Sembilan
Apesnya penginapan pun penuh
Pantai Sembilan ini merupakan spot wisata utama di pulau ini. Untuk masuknya cukup membayar Rp 5ribu per orang dan motor tidak perlu bayar. Disini cukup ramai warung yang jual makanan jadi gak usah takut kelaparan kalo gak bawa bekal dan harganya pun masih standard harga di tempat wisata umumnya. Di pantai ini terdapat beberapa pondok yang bisa disewa untuk menginap dengan harga sekitar Rp 200ribu-300ribu per malam dengan kapasitas 5-10 orang. Tapi zonk-nya kami sih gak dapat penginapan dan akhirnya memutuskan untuk camping di pantai tapi tanpa tenda hahaha. Buat yang ingin camping disini boleh saja dengan membawa tenda sendiri atau memanfaatkan gazebo yang ada di pantai.
Fasilitas untuk berfoto
Pondok untuk penginapan
Spot indah untuk menikmati sunset
Berhubung kami kesini bukan saat libur panjang, pantai pun cukup sepi untuk kami menikmati sunset dengan nuansa private beach ini wkwkwk. Buat foto-foto pun sangat mendukung karena disediakan banyak fasilitas yang photo-able. Pokoknya worth it banget lah buat dinikmati bareng pasangan atau teman-teman.
View Pantai Sembilan
Sunset
Sunset di ayunan
Saat malam pun pulau ini masih dialiri listrik menggunakan diesel jadi gak perlu bingung charge gadget ataupun menikmati langit dengan bintangnya di pantai ini. Untuk tempat tidur, kami memanfaatkan gazebo yang ada di pantai. Kebayang kan rasanya kena angin laut waktu tidur hahaha
Pagi hari merupakan saatnya main air. Disini terdapat persewaan snorkel, pelampung, canoe, dan banana boat. Untuk tarif banana boat Rp 200ribu untuk maksimal 6 orang, dan lainnya cukup Rp 25ribu per orang. Kami pun sempat bermain di laut dengan snorkel dan canoe.
Pantai Sepi
Sunset lainnya
Banana Boat yang bisa disewa
Menurut saya untuk pasir dan karang di pantainya masih kalah bagus dengan yang ada di Gili Labak, tapi dari segi jarak yang ditempuh dan fasilitas di pantai untuk sekedar refreshing pantai ini merupakan salah satu pilihan yang pantas didatangi.
Sunrise di Pantai Sembilan
Jadi kalo dihitung-hitung liburan kemarin cukup mengeluarkan dana sekitar Rp 150ribuan untuk satu orang. Dengan detail :
  • Penyeberangan untuk orang PP Rp 20ribu
  • Penyeberangan untuk motor PP Rp 14ribu (sudah termasuk menurukan motor dari kapal
  • Tiket masuk Pantai Sembilan Rp 5ribu
  • Bensin motor (patungan) Surabaya-Sumenep PP Rp 50ribu
  • Biaya lain-lain untuk makan dan sewa alat main air

Itulah sedikit cerita saya main ke Pantai Sembilan, Pulau Gili Genting, Kabupaten Sumenep, Madura. Sebenernya setelah dari pulau ini kami sempat main-main di Sumenepnya sih, tapi gak saya ceritakan karena nanti malah gak fokus tulisannya hehe

Kalo ada pertanyaan mungkin bisa tinggalkan di komentar postingan ini.
Terimakasih. 

Pendakian Gunung Penanggungan Via Jalur Tamiajeng Trawas


sudah lama gak update blog ya karna repot siding progress tugas akhir 😃

jadi ceritanya ini disempatkan main ke gunung diantara waktu libur semester yang cuma 1 minggu. Dengan adanya ajakan naik ke Gunung Penanggungan dadakan ini akhirnya saya putuskan untuk join rombongan yang cuma 1 orang termasuk diri saya.
Puncak Pawitra Penanggungan
Gunung Arjuna dari Puncak Pawitra
Oh ya kami naik ke Gunung Penanggungan ini via jalur Tamiajeng Trawas karena ini merupakan jalur yang paling mudah untuk pemula seperti saya diantara 4 jalur yang ada untuk ke Gunung Penanggungan. Sebenarnya banyak jalur untuk mendaki gunung yang katanya Miniatur Gunung Semeru ini diantaranya jalur Jolotundo, jalur Gempol dan jalur dari Jedong Ngoro.

Pos Basecamp Tamiajeng
Basecamp atau Pos 1 jalur Tamiajeng Trawas ini ada pas di sebelah Ubaya Training Center (UTC), jadi dari setelah putar balik setelah masjid Cheng Hoo Pasuruan, naik ke Trawas tinggal pake GPS atau tanya aja ke warga jalur ke UTC ini atau ke Tamiajeng, dijamin semua warga sana pasti tau dan baik hati memberi info.

Hari Jumat siang saya dan kawan-kawan mulai packing dan persiapan logistic yang rencana sore hari berangkat. Dari kampus di Surabaya jam 17.30 sampai ke basecamp jam 21.00 dikarenakan selain jalan macet juga terjadi insiden teman saya yang gak tahu jalan malah nyasar.
Sesampainya di basecamp kami langsung menuju pos untuk daftar ke petugas dan mendengarkan briefing, tak lupa kami membayar biaya masuk 10ribu per orang juga diberi kantong plastik untuk sampah dan juga peta jalur pendakian.
Base Camp Tamiajeng
Start Pendakian
Sebelum mulai pendakian, silahkan isi penuh stok air untuk masak atau minum karena diatas Gunung Penanggungan ini tidak ada sumber mata air jadi semua harus disiapkan dari basecamp. Sekitar jam 22.00 kami start pendakian. Jangan tanya bagaimana dokumentasi saat pendakian karena pake kamerapun hasilnya gelap gulita jadi hape disimpan untuk pagi hari. Bayangkan saja bagaimana rasanya pendakian tengah malam saat itu gerimis dan kondisi lapar karna warung di basecamp sudah tutup semua haha. Foto dokumentasi ini diabadikan saat turun atau kondisi siang hari.
Trek dari pos 1 (kiri) dan trek dari pos 3 (kanan)
Dari pos 1 ke pos 2 trek masih relatif datar bahkan diawal jalannya turunan. Berdasarkan peta yang saya dapat dari petugas, jarak pos 1 ke pos 2 ini 2,4 KM dan waktu itu kami berhasil menempuhnya dalam waktu 30 menit. Saat siang hari di pos 1 ini akan ada warung yang jual makanan dan minuman. Setelah berisitirahat 5 menit di bawah cuaca gerimis rintik-rintik kami lanjutkan pendakian. Mulai dari pos 2 ini jalan sedikit menanjak dan cukup licin karena jalan ini merupakan jalur air turun dari atas. Pos 2 sampai puncak bayangan ini jaraknya 2 KM namun karena trek yang menanjak untuk sampai ke pos 3 butuh waktu sekitar 30 menit. Pos 3 ke pos 4 butuh waktu 1 jam dan pos 4 ke puncak bayangan jalanan sangat menanjak butuh waktu 1 jam. Jadi dari pos 1 sampai puncak bayangan kami butuh waktu 3 jam karena nafas saya yang ngos-ngosan gak pernah olahraga wkwk. Normalnya sih memang 2-3 jam. Jam 1 malam kami baru sampai puncak bayangan dan langsung mendirikan tenda karena saat itu langsung hujan badai sampai baju kami lumayan basah. Beberapa tenda di sini juga ada yang rubuh kena angin.
Puncak Pawitra dari Puncak Bayangan
Puncak Pawitra
Puncak Bayangan
Puncak bayangan ini merupakan sebuah tanah datar yang cukup luas dan biasa dijadikan tempat camp ground para pendaki. Saat pendakian, puncak bayangan ini seperti puncak Gunung Penanggungan tapi puncak sebenarnya masih jauh. Biasanya jam 3-4 pagi barulah naik ke puncak pawitra untuk berburu sunrise, namun karena kami baru tidur jam setengah 2 pagi akhirnya kami baru naik jam 5. Normalnya ke puncak sekitar 30 menit tapi saya baru sampai atas jam 6 pagi alias 1 jam perjalanan. Trek menuju puncak ini tidak ada datarnya melainkan tanjakan dengan kemiringan 70-80 derajat dan jalan batuan kecil sampai besar. Gagal mendapat sunrise alhasil foto-foto apa adanya. Dari puncak ini dapat terlihat puncak gunung Arjuna Welirang. Jika beruntung dapat terlihat Gunung Semeru dan Pegunungan Bromo. Dari puncak ini juga terlihat jalur lain untuk menuju puncak ini. Sejak tahun 2015 di Puncak Penanggungan dipasang tiang Bendera. Jadi menambah Nasionalisme kita, disisi bawah juga terdapat makam kecil "mbah penanggungan" katanya. Saya sendiri belum pernah kesana.
Pemandangan di puncak
Lembah Gunung
Trek turun dari puncak ke puncak bayangan
Puas foto-foto langsung turun sekitar jam 8 pagi. Dari atas sini waktu mau foto puncak bayangan malah tertutup kabut. Sesampainya di tenda kami langsung masak makanan karena bias dibilang dari semalam perut belum terisi makanan berat, hanya terisi air minum dan roti + madu.
Makan siang
Partner Naik Kemarin
Setelah makan sekitar jam 11.30 kami turun dari puncak bayangan untuk pulang. Kebetulan ini adalah hari sabtu jadi banyak rombongan yang baru saja naik. Perjalanan turun kami tempuh sekitar 2 jam. Sengaja turunnya pelan karena otot kaki sempat keram dan jalannya licin daripada malu terpeleset wkwk.

Mungkin lain waktu jika saya kesini lagi mungkin lebih banyak dan lebih bagus dokumentasi yang diambil.

Bisa dibilang perjuangannya sebanding dengan pemandangan yang diperoleh untuk sekedar short trip. Dari segi berat medan jalur via Tamiajeng Trawas ini relatif mudah untuk pemula atau wanita. Beberapa teman saya latihan sebelum naik Gunung Semeru juga naik ke Gunung Penanggungan ini terlebih dulu.

Naval Base Open Day 2016, Mengenal Seluk Beluk ARMATIM TNI AL


Sudah cukup lama gak update blog ini karena kesibukan di kampus ya hehe. Bulan Desember ini bertepatan dengan hari Armada, KOARMATIM (Komando Armada RI Kawasan Timur) TNI AL di pelabuhan ujung Surabaya setiap tahunnya selalu mengadakan event untuk masyarakat umum yang meliputi funbike, funrun dan juga kegiatan mengenalkan alutsista TNI AL yang ada di MAKO ARMATIM SURABAYA. Kebetulan saya sendiri hari minggu tidak ada kegiatan jadi saya putuskan untuk sekedar gowes dan berencana melihat-lihat pangkalan pusat Angkatan Laut untuk wilayah Indonesia timur ini.
event Naval Base Open Day 2016
MAKO ARMATIM ini berada di wilayah Surabaya Utara tepatnya diantara Pelabuhan Tanjung Perak dan Jembatan Suramadu. Untuk jalan yang ditempuh kita tinggal melewati jalanan menuju Pelabuhan Tanjung Perak. Kemudian kita tinggal cari rambu yang bertuliskan menuju Armatim. Agak susah sih karena tempat ini bukan merupakan tempat umum dan hanya dibuka satu tahun dalam sekali saat event ini tapi berhubung banyak panitia acara alhasil ada yang mengarahkan.
Dari Pintu Gerbang Mako Armatim
beberapa kapal TNI AL
Sekitar jam 8 pagi saya sampai di armatim dan kondisi masih cukup sepi. Hanya terdapat peserta fun bike dan funrun yang sudah sampai finish. Para siswa-siswi TK juga banyak yang datang karena ada lomba mewarnai. Dari gerbang utama menuju ke ujung pelabuhan saya melewati beberapa kapal milik TNI AL yang sedang berlabuh. Cukup keren sih mengingat jarang sekali melihat hal seperti ini. Acara berlangsung ada di ujung pelabuhan dan tepatnya disamping monumen Jalesveva Jayamahe. Dan dalam hati saya langsung bilang “WAH KEREN!!!” karena selama ini hanya melihat dari kejauhan saat naik kapal feri menuju pulau Madura tetapi kali ini saya berada dibawah monumen tersebut. Sebenarnya bisa naik lebih keatas lagi tetapi saya malas aja melihat banyaknya orang diatas haha.
kapal lainnya
Monumen Jalesveva Jayamahe
Sempat naik ke salah satu KRI
Lanjut explore acara ini lagi saya lihat ada beberapa KRI (Kapal Republik Indonesia) yang masih aktif dan dibuka untuk umum. Saya pun gak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan menaiki dua KRI yang sedang di “parkir”. Keliling dari anjungan hingga buritan kapal dan akhirnya lumayan tahu seperti apa KRI itu meskipun hanya bagian luarnya. Dari kapal ini saya dapat melihat pelabuhan Tanjung Perak dan jembatan Suramadu. Sempat terlintas semacam kapal boat yang mengangkut banyak orang dan ternyata orang-orang tersebut para perenang dari TNI AL maupun umum yang sebelumnya telah unjuk kebolehan dalam berenang di Selat Madura.
atas dek KRI
Jembatan Suramadu kelihatan
para perenang
Ternyata banyak kesatuan di TNI AL
Selain menunjukkan KRI-nya, di event ini TNI AL juga mengenalkan beragam unit kesatuannya. Kalo orang awam mungkin hanya tahu TNI AL dan KOPASKA (Komando Pasukan Katak). Tetapi di event ini saya jadi tahu bahwa banyak sekali kesatuan dibawah naungan TNI AL misalnya DENJAKA, satuan kapal selam, satuan sapu ranjau, dll. Beragam peralatan tempur seperti tank amphibi dan juga senjata api juga diperkenalkan kepada masyarakat. Kalo biasanya tentara kelihatan sangat tegas sampai anda takut untuk ngajak berfoto, disini setiap tentara akan ramah namun tetap tegas bahkan bisa diajak berfoto. Jarang-jarang kan hahaha.
para taruna TNI AL
beberapa pasukan tank
bisa foto dengan para pasukan
Dari semua KRI sayang sekali KRI Dewaruci yang sangat terkenal itu belum berlabuh. KRI Dewaruci terkenal karena misi perdamaiannya mengelilingi seluruh dunia dan KRI ini merupakan kapal layar bermesin, jarang banget kan ada KRI model kapal layar. Setelah saya pulang baru dapat kabar kalo KRI Dewaruci datang siang hari.

Event ini sangat meriah sekali dilihat dari antusiasme masyarakat yang datang ke tempat ini. Bagi yang mengikuti funrun dan funbike ada juga undian doorprize dengan hadiah paling besar adalah sebuah mobil. Sejak semester satu saya ingin datang ke MAKO ARMATIM ini untuk ikut funbike, tetapi baru terwujud di semester tujuh ini.
puncak acara pengundian doorprize
gong raksasa di samping monumen Jalesveva Jayamahe
Saya rasa event seperti ini perlu diselenggarakan rutin tidak hanya oleh AL tetapi juga oleh TNI lain seperti AD atau AU agar masyarakat juga dapat mengenal para pasukan yang siap menjaga kesatuan NKRI, seperti semboyan TNI “Bersama Rakyat TNI Kuat“.


JALESVEVA JAYAMAHE – Di Lautan Kita Jaya

Pengalaman Menonton Karapan Sapi Secara Langsung


Sebenarnya tujuan utama ke Pamekasan sendiri adalah untuk melihat perhelatan event Karapan Sapi yang hanya digelar satu kali tiap tahunnya. Tepatnya yang menjadi tuan rumah adalah Kabupaten Pamekasan. Mungkin banyak yang sudah tahu dan bahkan sering di buku-buku sekolah mengenai informasi bahwa karapan sapi ini merupakan budaya asli dari Madura.
Karapan Sapi
Setelah sehari sebelumnya diadakan Festival Sapi Sonok, hari Minggu tanggal 30 Oktober ini masih di tempat yang sama yaitu di Stadion R.Soenarto Hadiwidjojo diadakan lomba karapan sapi.
Sekitar jam 10 pagi kami langsung pergi menuju stadion. Berbeda dengan hari sebelumnya yang ramai tapi masih lancar untuk parkir atau jalan, siang ini di stadion parkiran penuh bahkan sampai membuat macet jalan raya. Untuk parkir motor saja kami harus mencari cukup jauh dan itu pun bukan tempat parkir tetapi sebuah gedung pemkab yang disulap mejadi parkiran dadakan.
Di siang hari yang sangat panas kami berjalan menuju stadion. Diluar stadion banyak masyarakat yang menonton dari luar dengan memanjat pagar stadion atau melihat dari atas truk, yup yang penting bisa liat hahaha. acara ini tidak dikenakan tiket masuk dan saya pun langsung cari spot yang bisa take foto dengan angle terbaik yaitu di dekat finish. Maklum saja saya hanya pake kamera dengan lensa standart, tidak seperti para jurnalis atau fotografer yang sudah profesional menggunakan lensa tele zoom dengan ukuran yang panjang-panjang.
sampai naik pagar
ramainya antusiasme masyarakat
di sekitar garis finish
Karapan sapi ini memperebutkan Piala Presiden Bergilir. Semua peserta yang ikut merupakan perwakilan yang telah mengikuti seleksi di tiap Kabupaten jadi ada total 16 peserta yang mengikuti lomba karapan sapi ini. Jadi selain mewakili tim mereka sendiri, tiap peserta juga mewakili kabupaten asal mereka.

Pemenang adalah yang paling cepat sampai garis finish
Secara teknis lomba ini sebenarnya cukup sederhana, yakni dua peserta akan lomba adu cepat sampai di garis finish dengan jarak sekitar 80-90 meter (berdasarkan panjang lapangan stadion). Tapi berbeda dengan lomba balapan umumnya, karapan sapi ini nantinya ada juara Menang dan juara yang kalah. Dari balapan putaran pertama, pasangan sapi yang menang akan dilombakan dengan para peserta yang menang dan yang kalah akan dilombakan dengan peserta yang kalah sehingga nanti akan diperoleh dua juara.
Lintasan Balapan
Balapan
Salah Satu Peserta
Setiap pasang sapi akan ada seorang joki. Joki ini biasanya adalah anak kecil atau remaja agar bobotnya ringan dan sapi bisa lari lebih kencang. Setiap sapi yang akan berlomba dimasukkan ke dalam area pelepasan. Disini setiap sapi akan disiapkan oleh joki dan para official tim. Setiap peserta diberikan batas waktu 10 menit untuk persiapan. Jika kedua peserta sudah siap sebelum batas waktu habis, maka balapan akan langsung dimulai. Namun jika ada peserta yang belum siap maka tetap saja sapi harus langsung dilepas atau dianggap kalah.

Mencoba mengambil foto yang penuh tantangan
Untuk sekedar ambil foto sangat susah, selain penonton yang sangat banyak juga harus was-was jika joki gagal mengendalikan sapi maka sapi bisa saja menabrak para penonton. Karena saya datang siang hari maka spot terbaik hanyalah di dekat finish yang memacu adrenalin hahaha
Dekat Banget -_-
Saya juga menyempatkan melihat di dekat area pelepasan. Disini setelah sapi dilepas akan ada banyak orang yang membunyikan peralatan yang digunakan agar sapi berlari lebih kencang. Peralatan yang digunakan bermacam-macam mulai dari kaleng bekas hingga lonceng. Yang jelas semua alat yang bunyinya berisik.
Area Pelepasan
Mulai Start
Hadiah yang diperoleh cukup menggiurkan
Hadiah dari karapan sapi ini adalah sebuah mobil tentu sebuah hadiah yang cukup besar untuk event seperti ini. Menurut info yang saya dengar kalo sapi yang menjadi juara disini harganya bisa naik ratusan juta. Saya kira harga itu sebanding dengan perawatan yang dilakukan pemilik sapi seakan-akan sapinya ini merupakan sapi spesial. Kenapa spesial ? di salah satu tenda tempat perawatan sapi salah satu tim saya lihat sapi ini diberikan perlakuan khusus seperti diberikan jamu bahkan ada tukang pijatnya sendiri.
Tenda Perawatan
Daaannn tujuan awal saya datang ke Pamekasan ini sudah tercapai yaitu melihat secara langsung dengan mata kepala saya sendiri wkwk sorry lebay. Padahal gak nonton sampai selesai, Cuma setengah balapan yang ada. Yang penting sudah liat lah dan tahun ini yang menjadi juara dari Kabupaten Sampang. Selamat untuk para pemenang dan tetap lestarikan budaya asli Indonesia J